
Bangkalan, Maduracorner.com – Kelompok 12 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) sukses menggelar sosialisasi pengolahan kompos dengan metode ember bertumpuk di Desa Kelbung, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Sabtu (11/1/2026) pukul 11.00 WIB.
Kegiatan yang dipusatkan di rumah Mursidi, Carek Desa Kelbung, itu dihadiri Kepala Desa Kelbung Saifuddin, S.H., tokoh masyarakat, tokoh agama, para petani, serta warga setempat. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah ramah lingkungan berbasis rumah tangga.
Program tersebut dilaksanakan oleh KKN Kelompok 12 UTM di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Safriudin Rifandi, S.T., M.Tr.T. Kelompok ini diketuai oleh Farhan Jiddan Saros, dengan anggota mahasiswa lintas program studi yang aktif terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Dalam pemaparannya, tim KKN menjelaskan bahwa metode ember bertumpuk dipilih karena praktis, murah, dan mudah diterapkan oleh masyarakat desa. Selain tidak membutuhkan lahan luas, metode ini juga memanfaatkan ember atau galon bekas yang banyak tersedia di rumah warga.
“Pengelolaan sampah organik dari rumah tangga merupakan langkah penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Dengan metode ember bertumpuk, warga bisa mengolah sisa dapur menjadi kompos secara mandiri,” ujar Ketua Kelompok 12, Farhan Jiddan Saros.
Metode ember bertumpuk merupakan teknik pengomposan skala rumah tangga dengan menggunakan dua ember yang disusun secara vertikal. Ember bagian atas berfungsi sebagai wadah utama penguraian bahan organik, sedangkan ember bagian bawah digunakan sebagai penampungan cairan hasil peruraian atau lindi. Sistem ini dirancang sederhana, hemat ruang, serta mudah diterapkan tanpa teknologi yang kompleks.
Selain pemaparan materi, kegiatan sosialisasi juga diisi dengan **penyerahan alat dan bahan pembuatan kompos secara simbolis kepada Kepala Desa Kelbung, Saifuddin, S.H.** Penyerahan tersebut dimaksudkan sebagai sampel praktik agar metode ember bertumpuk dapat diterapkan dan dikembangkan dalam kegiatan pengelolaan sampah di tingkat desa.
Alat dan bahan yang diserahkan langsung digunakan dalam sesi praktik pembuatan kompos. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga dapat menyaksikan sekaligus mempraktikkan secara langsung tahapan pengolahan sampah organik menggunakan metode ember bertumpuk.

Adapun alat yang digunakan meliputi ember plastik, penutup ember, kran, serta alat pelubang seperti bor kecil. Sementara bahan pengomposan terdiri dari bahan organik basah dan bahan organik kering yang mudah ditemukan dari aktivitas sehari-hari warga.
Kepala Desa Kelbung, Saifuddin, S.H., menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap sosialisasi ini dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. “Ini sangat bermanfaat bagi warga, terutama petani. Selain mengurangi sampah rumah tangga, kompos yang dihasilkan juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian,” ujarnya.
Hasil dari kegiatan sosialisasi ini menunjukkan dampak positif bagi masyarakat. Warga memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sampah organik secara mandiri. Metode ember bertumpuk dinilai sesuai dengan kondisi desa karena sederhana, efisien, dan mudah dipraktikkan.
“Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan KKN, sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya kesadaran kolektif masyarakat Desa Kelbung dalam mengelola sampah secara bijak, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
