
Catatan Seorang Pengabdi
(Settong Dhere, Dari Tribun untuk Martabat)
drg. Agus Baijuri.
Pertemuan dengan Presiden K-conk Mania semalam dan pendirinya beberapa waktu yang lalu, membuat saya ingin menulis kenangan itu…..
Saya tidak dilahirkan sebagai K-Conk.
Seperti banyak orang lain, perjalanan saya dimulai dari hijau di tribun, dari gemuruh yang mengajarkan saya tentang militansi dan kesetiaan.
Saat masih menjadi mahasiswa di Bali, Persebaya adalah kebanggaan yang hidup di depan mata.
Saat itu saya paham betul satu hal: Madura adalah darah, tetapi Persebaya adalah pengalaman.
Saya belajar banyak dari sana—tentang bertahan, tentang tidak meninggalkan, tentang berdiri bahkan saat keadaan tak berpihak. Namun hidup, seperti sepak bola, selalu membawa kita pada fase pulang.
Setelah menyelesaikan studi dan menyandang gelar dokter, saya kembali ke tanah kelahiran. Pada masa-masa awal, saya masih bolak-balik ke Surabaya, berdiri di tribun Gelora 10 November, mendukung Persebaya seperti yang sudah-sudah. Ada kesetiaan yang belum saya lepaskan, tapi juga ada ruang kosong yang belum terisi.
Hingga saya mengenal K-Conk Mania—sebuah gerakan suporter yang lahir dari rahim kesadaran orang-orang Madura: bahwa sudah saatnya kecintaan, identitas, dan harga diri berdiri di tanah sendiri bersama Madura United.
Di sanalah semuanya terasa utuh.
Seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.
Saya tidak ingin hadir hanya sebagai penonton. Saya ingin mengabdi. Karena K-Conk bukan sekadar barisan di tribun, melainkan sikap hidup.
Sejak awal, kami menanamkan nilai yang tegas dan terang:
No rasis. No anarkis.
Bukan karena kami lemah, tapi karena kami sadar—martabat tidak dibangun dari kebencian dan kekerasan.
Di K-Conk, perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan. Kami berdiri dengan semboyan Settong Dhere—satu saudara—bukan hanya dalam nyanyian, tapi dalam sikap dan tindakan. Menjaga lisan, menahan emosi, dan menempatkan persaudaraan di atas segalanya.
Di tribun, saya menemukan keluarga.
Saya belajar kepemimpinan dari Pak Jimhur Saros. Saya berdiskusi tentang loyalitas dan konsistensi bersama Pak Ram Halili dan Jenderal Mimit.
Saya menjalin persaudaraan dengan Nom Unzi Pamekasan, Boim, Akbar Bandhel, Deddy Machunian, Boim kwanyar dan banyak kawan seperjuangan lainnya yang namanya mungkin tak bisa saya sebut satu persatu, tapi jasanya hidup dalam ingatan.
Bagi saya, mereka bukan hanya tokoh.
Mereka adalah penjaga nilai.
Ujian pengabdian seorang suporter sering kali hadir di laga tandang. Dan salah satu yang paling membekas adalah saat Madura United harus berlaga di Bali. Rencana telah tersusun, rombongan bus telah siap, namun sebuah acara mendadak membuat saya tertinggal.
Kecewa? Pasti.
Tapi mengabdi tidak mengenal kata menyerah.
Dengan satu tekad—saya harus sampai—saya memesan tiket pesawat dan berangkat sendirian keesokan harinya. Di dalam pesawat, saya sempat tersenyum. Mungkin tak ada yang mengerti mengapa seseorang rela melakukan semua itu hanya demi 90 menit pertandingan.
Namun bagi saya, ini bukan tentang sepak bola semata. Ini tentang komitmen pada pilihan hidup.
Saat saya melihat bendera K-Conk berkibar di tribun Stadion Dipta, semua lelah runtuh seketika. Saya datang sendirian, tapi saya pulang dengan rasa utuh. Di stadion itu, saya kembali diingatkan: pengabdian tidak selalu harus ramai, tapi harus tulus.
Bahkan saat perjalanan pulang, tanpa saya sadari, saya berada di satu pesawat yang sama dengan para pemain Madura United. Saya baru mengetahuinya setelah turun dari pesawat.
Sebuah kebetulan kecil yang bagi saya terasa simbolis—kami menempuh jalan masing-masing, namun menuju tujuan yang sama.
Hari ini, saya menulis bukan untuk dikenang, tapi untuk mengingatkan diri sendiri:
bahwa menjadi K-Conk bukan soal bendera atau atribut,
melainkan tentang menjaga nilai, menahan diri, dan merawat persaudaraan.
Selama kami tetap memegang no rasis, no anarkis,
selama Settong Dhere tetap menjadi napas,
selama itu pula pengabdian ini akan terus hidup—
dari tribun, untuk Bangkalan, Madura, dan indonesia serta sepakbola yang lebih manusiawi.
Fabiayyi ala irobbikuma tukaddibaan
